- 01112019 -
Dear Senja,
Bukan Meli namanya kalo nggak
nekat pergi sendiri ke lantai empat cuma buat liat matahari terbenam. Atau
bahkan naik lagi pakai tangga besi ke roof top lantai lima. Ya memang sekarang,
di roof top jadi tempat menarik buat Meli. Apalagi di saat-saat akan munculnya
senja.
Hening memang, hanya ada suara
angin dan kendaraan yang dibilang tidak cukup ramai, hanya beberapa kendaraan
yang lewat. Biasa lah, Ruteng. Nggak ada ceritanya Ruteng macet. Yah beginilah
tinggal di Ruteng.
Pemandangan di
roof top ada pegunungan sejauh mata memandang, apa menariknya?. Hanya gunung dan
beberapa bangunan kecil, bukan seperti bangunan pencakar langit di padatnya
Ibukota. Ditambah dengan dinginnya Kota Ruteng. Angin yang bertabrakan dengan
kulit tipis memberikan sensasi dingin, tapi ini semua nggak buat Meli untuk
cepat-cepat beranjak dari sana.
Memang berlama-lama di tempat
ini memiliki kesan tersendiri, entah apa itu, sampai sekarang hanya merasa
nyaman saja karena ditemani senja dan hamparan langit luas dengan taburan awan yang berlalu lalang. Masa bodoh dengan mereka yang bilang jika di
sini ada sesuatu yang 'mistis'.
Dan terkadang, matahari tidak
mau menampakkan dirinya karena dia bersembunyi di balik awan-awan yang egois.
Awan itu hanya ingin menikmati pemandangan sunset sendiri. Pemandangan di mana sang
mentari akan hilang untuk sementara.
.
Titip salam untuk dia di sana.
Hai senja,
Aku tahu senja ada
di manapun. Berbagi pemandangan berharga untuk semua orang. Dari ujung barat
hingga ujung timur, semua dapat menikmati indahmu.
Aku menitipkan salam ku untuk
dia. Karena kami masih memandang senja yang sama, walau di tempat yang berbeda.
Dan untuk kamu yang jauh di
sana. Jangan lupa bersyukur dan tetap semangat dalam segala hal. Walau ku tahu, hidup tidak hanya ada rasa manis disetiap harinya. Tapi percayalah, disetiap langkah yang diambil pasti ada makna dibalik itu semua.
Ku
titip rindu lewat senja.
.
~ Thanks ~
#Blmadafotosenja
#kameratidakmemadahi







